Persalinan di Rumah

“Apa? Lahiran di rumah? Kenapa ga di rumah sakit?”

Itu pertanyaan yang saya dapatkan waktu melahirkan anak ketiga. Dari pengalaman persalinan anak pertama hingga yang ketiga, banyak hal yang saya pelajari. Kunci utamanya adalah sabar. Percaya atau tidak, istilah HPL atau hari perkiraan lahir memang hanya Tuhan yang tahu. Dan si bayi yang dalam kandungan pun tahu kapan dan bagaimana ia ingin dilahirkan. Seorang bayi tahu kapan waktu terbaik untuknya terlahir. Melihat dunia dan bertatap muka dengan keluarganya.

Dari 3 kehamilan yang saya alami, ketiganya selalu lewat HPL. Anak pertama, 40w lewat 1 hari. Anak kedua, 42w. Anak ketiga pun 42w juga.

Memang, dari anak ke-2 sebenarnya kami berencana untuk melahirkan di rumah. Namun Tuhan mengabulkan di kelahiran anak ke-3 kami. Proses kehamilan saya saat itu berjalan hampir serupa dengan kehamilan sebelumnya.

Di kehamilan yang ketiga, kami mengikuti 2x kelas yang diselenggarakan oleh Bidan Yesie dan Bidan Erie Marjoko.  Karena ini kehamilan saya ke-3, space di rahim saya sudah besar, jadilah bayi dengan leluasa muter sana sini. Dan setiap kali cek USG ataupun cek posisi oleh bidan, kepalanya selalu di atas atau di samping. Alias sungsang atau melintang. Panik? Yah kalau dulu waktu Damar sih panik. Kalau yang ini, ya wis lah pasrah aja. Puji Tuhan lagi suami juga selalu menenangkan. Katanya, udah tenang saja nanti juga akan muter sendiri. Begitu juga kata Bidan Erie setiap cek sehabis prenatal yoga.

Sebenarnya apa saja sih yang perlu disiapkan untuk menghadapi persalinan, terutama bagi yang sangat ingin bisa melahirkan normal (vaginal birth)?

  1. Belajar dan serap banyak hal positif yang ada di sekitar kita. Terkadang saat hamil, kita sensi ya. Jadinya ucapan orang mudah sekali mempengaruhi mood kita. Jadi, pilih yang mau kita dengar. Kalau ucapakan ataupun komentar orang membuat kita ga nyaman, jangan dengar atau malah kalau terlalu mengganggu, jangan bertemu.
  2. Bertemu/pilih bidan/dokter yang “ngademin” kita. Seperti kejadian yang saya alami, dari kehamilan kedua dan ketiga, posisi bayi selalu melintang, sungsang hingga HPL dan ketika kita coba raba, juga sama. Namun ketika bertemu dengan nakes yang kalau memberikan nasihat ga sesuai, sudah badan kita besar, ga nyaman, deg-degan terus bukannya diberikan kata-kata yang meneduhkan, tapi malah bikin galau. Kan males yaa..jadi ga pernah ada kata terlambat untuk ganti dokter/bidan/nakes menjelang proses melahirkan. Cari yang sesuai dengan hati. Ikuti intuisimu.
  3. Nrimo dan ikhlas. Buat yang punya suami suka panikan dan bingungan saat emergency seperti suami saya, sini ngobrol dulu. Ahak. Bukan curhat, tapi saya melihat ada perkembangan dan usaha dari suami saya mulai dari persalinan anak pertama hingga kami berdua dimampukan untuk menjalani persalinan di rumah, yak, berdua saja. Dari awal yang suami kurang belajar, hingga akhirnya mau belajar dan berusaha untuk memberikan pendampingan terutama saat persalinan. Dan sebagai ibu hamil, pun perlu untuk nrimo dan ikhlas terhadap apapun yang ada di sekitar kita. Mulai dari suami, orang tua, keluarga, lingkungan kerja bahkan sahabat yang mungkin berkomentar di saat yang tidak tepat.
  4. Memaafkan dan berdamai.  Pada saat kehamilan kedua, saya mengikuti kelas yang namanya Tapas Accupressure Technique (TAT) yang diadakan di True Nature Healing dengan fasilitator mas Reza Gunawan. Apa yang dipelajari di sini, terutama adalah untuk berdamai dengan diri kita, dengan semua apapun yang ada di sekitar kita yang kita sadari dan tidak, juga dengan pengalaman trauma yang kita alami. Bagi saya ini sangat membantu untuk mendamaikan diri saya dengan proses persalinan anak pertama yang cukup traumatis bagi saya saat ini.
  5. Aktif. Ibu hamil itu sehat dan kuat loh! Jadi ga ada salahnya untuk ibu hamil selalu aktif bergerak. Yoga, jalan cepat sangat membantu saya kala itu. Juga tentunya dengan menjaga 2 anak, plus hamil tua dan harus tetap aktif memasak, gendong, nyuapin, kadang mengejar kala mereka kabur dari saya. Coba dimaksimalkan kesempatan untuk tetap bergerak. Jangan mager! Saya tetap kerja hingga kehamilan 39w (pp dari Cibubur-Thamrin setiap hari), rajin main gymball, rebozo.
  6. Niatkan dan bawa selalu dalam doa. Kalau kami (saya dan suami) saat itu berdoanya adalah: agar kiranya Tuhan yang memampukan segala sesuatunya untuk persalinan di rumah. Dan ternyata Tuhan benar-benar mengabulkan.

Pengalaman persalinan di rumah

Jadi, saat sudah lewat HPL kira-kira 2 minggu, pas lebaran, bidan yang kami minta untuk mendampingi, yaitu Bidan Erie Marjoko mudik lebaran ke Jawa Tengah. Juga ART kami saat itu mudik lebaran. Dan kembalinya telat pula hehe mundur kira-kira seminggu. Tuhan memang sudah siapkan semua.  Saat itu, menjelang hari yang sudah kami tunggu-tunggu, kami membeli lauk saja untuk makan malam. Saya pecel ayam dan bakso lengkap dengan sambal yang pedas. Jam 10 malam mulai saya merasa mulas. Saya kira karena kepedesan. Tapi sambil mencret di kamar mandi, saya juga mengunduh aplikasi Kontraksi Nyaman. Sambil main gymbal, saya mulai merasakan gelombang cinta yang semakin melanda. Semalaman saya tidak bisa tidur. Suami juga sama. Mendampingi dengan kadang bingung kok diomelin hehehe..

Akhirnya jam 2 pagi ketika sedang duduk di pinggir tempat tidur, tahu-tahu kaya suara mak-kletuk, saya langsung lari ke kamar mandi, dan berdiri pegangan pintu kamar mandi. Sambil bilang, mas ini ketubannya pecah. Suami langsung siapkan barang bawaan untuk bersalin sambil menelepon asisten Bidan Erie, yaitu mbak Ririn. Saya otomatis setengah bersandar sambil menyanyikan lagu yang baru saya ciptakan saat itu juga di kamar mandi:

“Tuhan Yesus…baik…… Tuhan Yesus…baik…. Tuhan Yesus…baik…”

Hanya kata-kata itu yang mampu saya ucapkan berulang-ulang. Akhirnya saya minta suami masuk ke kamar mandi, sambil setengah bertumpu pada suami, akhirnya saya setengah mengejan, dan lahirlah anak kami yang ketiga, Tiara Hadassah Arindra langsung disambut oleh suami. WOW. Hanya kami berdua. Saya pun hanya bisa memegang dan menggendong Tiara dengan takjub. Tuhan luar biasa.

Kemudian kami berdua ke kamar belakang. Suami sudah mempersiapkan tempat tidur dengan alas perlak yang besar yang memang sudah disiapkan untuk jaga-jaga kalau jadi persalinan di rumah. Saya hanya bisa memeluk Tiara dan IMD dengan puas, diselimuti dan tiduran dengan nyaman. Sambil masih takjub dan bersukacita.  Hingga kini, saya masih ingat tiap detail persalinan saya. Dan benar, seorang bayi – tahu kapan waktu terbaik ia dilahirkan. Praise be to GOD.

 

 

3 Comments

  1. Herman

    March 5, 2018 at 12:01 pm

    Mau bilang aja,takjub Dan membayangkannya gak bisa..but Tuhan Yesus baik sudah Memberkati prosesnya..salute buat Ade Dan suami

    1. ariwita

      March 21, 2018 at 12:19 am

      Amin..terima kasih banyak abang sayang!

  2. (BERUSAHA) Weaning With Love - bincang ringan ariwita

    September 21, 2018 at 2:16 am

    […] pertama, Tiara masih bisa tidur tanpa menyusui. Namun tetap terbangun tengah malam dan minta mimik. Saya gendong […]

Leave a Reply

%d bloggers like this: