Pernikahan Masa Kini

Kok sepertinya agak berat ya judulnya? Tapi tenang..masih ga seberat berat badan saya.Jujur, kalau ditanya, apakah pernikahan saya sempurna? Hemmm…sepertinya manusia saja ga sempurna, apalagi pernikahan. Pernikahan yang ideal itu tergantung dari mana kita menyikapinya, melihatnya dan menjalaninya. Beberapa waktu belakangan ini, dari pertemuan saya dengan beberapa teman, banyak yang menceritakan tentang pernikahan. Karena ternyata kini, banyak sekali pernikahan yang goncang. Bincang ringan ariwita kali ini mau sedikit membahas tentang pernikahan masa kini dan bagaimana menjalaninya.

Sebelum memutuskan untuk menulis postingan ini, saya sempat bergumul. Alih-alih berbagi, nanti malah dikira takabur dan sombong. Namun saya pikir, apa yang akan saya bagikan akan menjadi pengingat, juga bagi diri saya ke depannya. So, here we go.

Pernikahan kami baru akan memasuki usia ke 9 tahun 2018 ini. Masih seumur jagung. Long way to go. Many things to working out. Dari hampir 9 tahun ini, kami saling belajar satu sama lain. Bagaimana bertengkar, menyelesaikannya, dan yang terpenting tidak ada “ampas” tersisa dari pertengkaran sebelumnya. Hehehehe yang menikah tapi ga pernah berantem, ya mungkin bersyukur. Tapi sebaiknya bersiap. Jangan sampai ibarat kata “fenomena gunung es” hadir dalam pernikahan kita.

Sepakat. Pepatah lama yang bilang kalau menikah itu ibarat naik perahu, sama-sama mendayung, tapi satu tujuan. Dalam perahu, tentu ada 1 komando yang diikuti kan? Jadi, ketika sudah saling berikrar dan mengucap janji pernikahan, baiknya saling bersepakatlah kita dalam segala hal. Ya nikah ya gitu. Kalau ada perbedaan pendapat, ya disampaikan, dibicarakan. Walaupun bisa berakibat debat dan konflik, tapi lebih baik demikian. Jadi kita juga sama-sama belajar menerima pendapat, kritik juga saran. Awalnya buat saya yang sudah lama apa-apa mutusin sendiri, karena kelamaan single (baca: jomblo), mandiri, kerja dan menikmati waktu sendiri, ga mudah untuk diskusi bersama pasangan (waktu itu belum nikah). Apalagi ketika menikah, belajar untuk nurut sama suami. Tapi seiring dengan berjalannya waktu (cieeee…) hal tersebut menjadi kebiasaan. Terutama untuk keuangan rumah tangga. Kami memutuskan berdua, prioritas apa saja yang harus diselesaikan dan didahulukan. Kadang saya mau beli baju saja (walaupun saya kerja dan punya gaji sendiri), tetap saya memberitahukan suami dan menanyakan pendapatnya. Demikian juga sebaliknya, ketika suami mau beli sesuatu, mainan untuk anak ataupun kebutuhannya, dia juga selalu nanya dan memberitahukan kepada saya.

Terbuka. Dari awal kami dekat, kami sudah kenal dengan lingkungan pertemanan. Mulai dari semua kami sudah bicarakan di awal. Termasuk juga saat kami memasuki pernikahan. Semua kami saling ketahui satu sama lain. Saya ingat pesan papa Daniel Alexander, papa pendeta panutan kami, jika sudah menikah, baiknya kita saling terbuka, terutama masalah perduitan. Beliau sangat keras dan mengingatkan jangan sampai ada yang saling menyimpan informasi atau punya tabungan rahasia yang tidak diketahui oleh pasangannya. Makjleb ya. Ya memang sih, ketika satu punya rahasia, maka bisa jadi ada rahasia lagi yang lainnya. Jadi kami saling terbukalah, untuk masalah tabungan, password email juga termasuk gadget masing-masing. Masa sampe segitunya? Buat kami sih iya. Pernikahan butuh effort. Usaha untuk mempertahankannya, buat kami salah satunya disini .

Memaafkan. Manusia tidak luput dari salah. Ahey. Bijak betul. Tapi iyalah, kadang beda respon terhadap anak saja sudah bikin mangkel. Apalagi untuk perdebatan yang lainnya. Jadi gimana kalau berantem? Selesaikan dan maafkan. Kita belum tentu lebih baik, lebih sempurna dari pasangan kita. Jadi kalau bertengkar, salinglah meminta maaf dan maafkan. Kadang sebuah pelukan dan ciuman, bisa menyelesaikan dan kembali menghangatkan hubungan. Bukannya dalam pernikahan kalau bisa tidak bertengkar? Wah…kalau sampai bisa tidak bertengkar ya mungkin baik. Namun apakah tidak bertengkar karena masing-masing pribadi menyembunyikan perasaannya atau bersikap masa bodo? Itu malah bahaya. Lebih baik sakit hati, perih berdarah tapi terbuka dan lega. Ketahui bersama apa yang menjadi masalah. Dan segera cari solusinya, bukan hanya terpekur melihat dan mencari akar permasalahannya.

Sesuaikan ekspektasi. Mungkin dulu sebelum menikah kita punya harapan tinggi. Punya pasangan begini, begitu, jabatannya ini, gajinya segitu, sikapnya begini, bla bla bla. Pernikahan “ideal” masa kini terkadang dibentuk dari pemikiran, pengetahuan serta pengaruh eksternal. Menurut saya, pernikahan itu kita sendiri yang menentukan, apakah akan kita menjalani dan menikmatinya. Atau kita akan merutukinya karena kebutuhan ataupun harapan atau ekspektasi kita tidak sesuai dengan kenyataan. Wajar lah menurut saya. Namun makin kesini, saya dan suami sama-sama belajar. Bahwa tidak ada pernikahan yang sempurnya. Jika saya mengharapkan saya untuk tiap hari bersikap romantis ke saya, sementara saya tahu bahwa orangnya tidak seperti itu, ya berhentilah mengharapkan dia akan muncul dengan membawa satu buket bunga mawar yang besar. It won’t happen. Dan ketika saya pikir ulang, jika ia melakukan itu, apa iya saya akan bahagia? Bukannya malah geli… hehehehe

Jadi, percayalah. Tidak ada pernikahan yang sempurna. Belajar, terima dan hidupilah. Hanya itu yang saya rasa bisa memperkuat sebuah pernikahan. Kalau kamu punya pengalaman terkait #pernikahanmasakini boleh kok dishare di komen. Semoga berguna ya

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: