(BERUSAHA) Weaning With Love

Well. Hari ini saya tertampar oleh sebuah postingan di Instagram. Akun yang kerap membagikan semangat tentang menyusui, berbasis luar negeri. Di foto yang saya lihat – seorang ibu sedang duduk dan menyusui anak perempuannya, berusia mungkin sekitar 3 atau 4 tahun. Epic. Banget. Jujur saat ini saya sedang dalam fase: saya capek dan bosan menyusui. Ditambah dengan kondisi saya yang sedang batuk membuat saya ingin istirahat yang sangat cukup di malam hari.

Weaning-With-Love

Jadilah saya pun bertekad untuk mulai Tiara, anak saya yang kini berusia 2 tahun 2 bulan. Memang Tiara sekarang menyusu hanya saat mau tidur terlebih saya bekerja dari pagi tiba di rumah malam.

Malam pertama, Tiara masih bisa tidur tanpa menyusui. Namun tetap terbangun tengah malam dan minta mimik. Saya gendong peluk, walau sedikit menangis, Tiara masih bisa tidur. Hari ke dua, sebelum tidur, Tiara saya kasih susu kotak kesukaannya. Namun dia tetap minta mimik dengan sedikit marah. Akhirnya saya gendong menggunakan jarik. Dia pun lelap. Hanya untuk 2 jam. Terbangun jam 12 dan menangis keras teriak marah. Saya akhirnya menyerah. Menyusuinya. Karena dia pun tidak mau digendong atau dipeluk oleh ayahnya. Maunya hanya 1. Mimik mama. ☹

Lalu saya pun menemukan postingan tadi. Ibu yang masih dengan iklas dan sukacita ketika menyusui anaknya. Bahkan ada beberapa postingan di akun @maternalinstictsbyamberley membuat saya terpekur.  Apakah harus segitunya saya memaksakan kehendak saya kepada Tiara. Keputusan saya menyapih Tiara saat ini memang belum sepenuhnya didukung suami. Karena menurutnya Tiara (juga mungkin saya) sama-sama belum siap.

Afirmasi bahwa Tiara sudah besar, minum dari gelas, berhenti mimik lagi, sudah saya lakukan. sejak beberapa bulan lalu, bahkan saat ia belum berusia 2 tahun. Namun memang belum terlalu rutin. Karena kadang saya terlanjur ngantuk.

Lalu saya merenung lagi. Seakan ada suara yang mengingatkan setelah saya melihat postingan tersebut. Jangan memaksakan. Agar meninimalkan trauma. Tidak apa berkorban. Tiara akan berhenti menyusui dengan sendirinya. Ah jadi mau nangis deh.

Siang, suami saya sempat telepon dan memberi kabar bahwa Tiara napasnya sulit dan terdengar suara lendir di dadanya. Sore, Tiara demam dan lemas. Saya langsung berkata dalam hati, “Tiara, maafkan mama ya nak. Nanti malam Tiara boleh kok mimik sama mama. Mama iklas Tiara mau mimik sampe umur berapa aja. Sampai Tiara siap.”

Saya pun pulang tenggo. Jam 5 absen langsung naik bis tercepat. Di jalan saya dapat info. Tiara muntah lumayan banyak dahaknya keluar dan sekarang membaik. Puji Tuhan!

Dari usaha menyapih kali ini, di percobaan perdana weaning with love yang belum sukses kali ini, ada beberapa hal yang saya sadari:

  1. Jika anak masih memintanya, berikan saja. Namun jangan terus menawari untuk menyusui.
  2. Jangan memaksakan kehendak. Pasti lelah terbangun tiap malam untuk menyusui. Namun ingatlah masa-masa ketika mereka tumbuh besar. Ketika mungkin mereka tidak mau dipeluk.
  3. Sepakati dengan suami dan minta dukungannya.
  4. Teruslah berusaha dan iklas jika si anak belum mau disapih.

Proses setiap Bunda dalam menyapih si buah hati berbeda. Bersyukur Tuhan masih izinkan untuk menyusui langsung. Jalani dan nikmati. Proses weaning with love masih akan berlanjut. Even a mother of three, still keep on learning. 

Maafkan mama ya Nak. Mama sayang Tiara.

Anyway, thanks Amberley, for keeping me wake up and grateful with my breastfeeding journey.

5 Comments

  1. Emmy

    September 21, 2018 at 2:02 am

    Love u adek. Peluk buat berdua.

    1. ariwita

      September 21, 2018 at 2:07 am

      Peluk bude juga…huhu mamak masih galau pagi ini.

  2. Rosa

    October 2, 2018 at 5:34 am

    Huhu, saya juga lagi ada di fase capek banget menyusui mbak, padahal anak saya baru 1,5 tahun.
    habis baca ini saya jadi semangat lagi 🙂

    1. ariwita

      October 2, 2018 at 6:07 am

      hugs mba…semangat yaa mbaa…karena akan ada masanya kita kangen saat2 bocah masih menyusui. jadi dinikmati sajaa…

Leave a Reply

%d bloggers like this: