Kerja di Hari Terakhir 2018

Senin, 31 Desember 2018. 

Ya, ini hari terakhir di 2018. Dan saya masih masuk kerja, 1/2 hari cuma sampai jam 1. Hore. Saya pun membawa Bre dan Damar ke kantor. Ini sudah beberapa kali mereka ikut ke kantor. Hal yang paling mereka nantikan adalah naik bis/kendaraan umum ke kantor. Biasanya mereka hanya mengantar saya hingga ke halte yang ada di dalam kompleks, lalu naik bis. Mereka selalu bilang, “Ma, kapan aku ke kantor Mama naik bis Sinar Jaya?” Hehehe and they dream comes true today!

Dalam perjalanan (yang ditempuh hanya dalam waktu kurang dari 1 jam), mereka tidak tidur sama sekali, tapi sibuk lihat kendaraan yang lalu lalang. Ketika di jalan, saya ngobrol sebentar dengan Bre. Saya tanya, “Bre, temen-temennya Bre ada yang suka diajak ke kantor mamanya?”. Bre jawab, “Iya ada Ma!” Lalu saya tanya, “Nathan ya suka diajak juga ke kantor Mamanya? Kalau Nathan ke kantor mamanya naik mobil terus ya?”. “Iya”, kata Bre. Kemudian saya tanya lagi, “Enak dong ya, naik mobil. Bre lebih seneng naik mobil apa naik bis?”. Bre pun menjawab dengan lantang, “Naik bis lah!!”

Hemmm jawaban yang sudah saya duga tapi membuat saya berpikir. Kadang kita orang dewasa berpikir bahwa yang nyaman sudah pasti enak. Naik mobil sendiri, naik turun di tempat yang dituju tanpa harus menyambung jalan kaki atau kendaraan lainnya. Tapi buat anak-anak, ternyata itu hal yang seru.

Kami pagi ini turun di depan Plaza Indonesia dan nyambung jalan kaki ke arah Sarinah. Mereka senang sekali dan thanks to Government, karena sekarang trotoar di area Thamrin sangat bersahabat terhadap para pejalan kaki.

So what’s the moral of the story? Mengutip komentar dari seorang sahabat tentang kenyamanan:

Kadang kenyamanan itu datang nya bukan dari fasilitas yang ada. Tetapi kenyamanan menikmati dengan melalui keadaan yang dilewati itu lebih membangun dengan hati yang di penuhi Anugerah Sukacita dan Ucapan Syukur kepadaTuhan. (Soesanty)

Hari-hari sekarang ini, mungkin sebagai orangtua, Ibu lebih tepatnya, saya sering kali memikirkan dan mengutamakan kenyamanan untuk anak saya. Kadang suka nelongso kalau mau beli mainan untuk anak tapi belum ada anggarannya. Atau ulangtahun dirayakan dengan sederhana, tanpa ada perayaan cukup dengan potong kue dan doa bersama di rumah. Tanpa bisa merayakan dengan mengundang teman-temannya ke rumah.

Tapi saya dan suami diskusi bahwa ketika ekonomi orangtua ada di posisi sedang “pas-pasan” anak-anak kadang mengerti dan empati mereka pun tumbuh lebih kuat. Tahun ini, kami bisa dihitung main ke mall, makan atau sekedar rekreasi. Kebanyakan akhir pekan kami habiskan di rumah. Karena ketika kami ke gereja, kami ke gereja untuk ibadah dan sekedar makan siang. Hiburan buat mereka: main ke toko mainan dan main track hotwheels dengan mobil mereka yang dibawa dari rumah. Atau mampir ke bioskop untuk sekedar melihat poster bioskopnya. Dengan hal yang sederhana itu mereka sudah bahagia.

Tips kami untuk menghabiskan waktu di rumah saat akhir pekan dengan beberapa kegiatan berikut:

  1. Jalan pagi keliling kompleks. Jika bangun waktunya pas, kami biasanya sekeluarga jalan keliling kompleks. Tujuannya: bonding, mengajarkan anak yang lebih besar untuk taat para peraturan lalu lintas, olah raga sekaligus to get as much as vit D as we can. Rekreatsi murah, meriah, dekat. Biasanya di tutup dengan main di supermarket dekat rumah. Bekal yang kami bawa: air putih, cemilan, susu kotak dan kaos untuk ganti. Anak yang lebih besar biasanya bawa sepeda jadi mereka juga terbiasa untuk naik sepeda dan mengikuti ritme rombongan.
  2. Nonton bersama. Kami suka memilih dan menonton film bersama di akhir pekan. Supaya lebih seru, lampu ruang TV dimatikan, pintu dan korden ditutup jadi seakan-akan ada di bioskop beneran. Tak lupa, siapkan pula berondong jagung rumahan. Mereka sudah bahagia nonton bersama.
  3. Masak. Saya hanya bisa memasak untuk anak-anak di akhir pekan atau saat libur. Senjata saya biasanya tanya mereka mau dimasakin donat atau martabak manis. Bukan apa-apa, ga berani nawarin yang lain karena belum biasa. Jadi kadang mereka saya minta bantu untuk mencampur tepung dan bahan yang lainnya.
  4. Bercanda. Saya dan suami sering sekali bercanda. Menggoda dan jadi badut untuk anak-anak. Sampai Bre, anak kami yang paling besar bilang gini: “Mama sama Papa kaya temen aja, bercanda terus.”, dia sampaikan sambil tertawa kalau kami bercanda.
  5. Menanamkan pemahaman ke anak bahwa untuk bahagia tidak selalu dicapai dengan pergi jalan-jalan atau ke mall atau yang lainnya.

Bahagia itu juga ada di rumah. Bisa ada di bis. Bisa ada di jalan. Bahagia itu sederhana. Ada di pikiran dan hati kita. Barusan anak nomor 2, Damar bilang, “Ma, terima kasih Ma, sudah ajak aku ke kantor mama, sama Bre.”

Ketika kondisi kita mungkin membuat kita sulit untuk bersyukur. Kadang kita sudah terlanjut misuh-misuh atau lupa berterima kasih untuk hal-hal sederhana. Lihatlah anak-anak. Mereka sudah bahagia dengan hal yang simpel, sederhana, karena bahagia itu kita yang menciptakan.

Selamat menyambut tahun 2019. Dengan bahagia, sederhana dan doa. Semoga 2018 memberikan kita banyak pelajaran, dan tahun 2019 juga siap kita sambut dengan semangat baru.

Hari Terakhir Kerja 2018

Hari Terakhir Kerja 2018

Hari Terakhir Kerja 2018

 

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: