Mengatasi Tantrum Pada Anak

Para orangtua, tentu paham dong dengan istilah TANTRUM? Anak kedua saya, Damar , yang tahun 2018 ini akan berusia 4 tahun. Kejadian ini sebenarnya terjadi beberapa bulan lalu. Namun, saat itu sering sekali terjadi. Tapi ya pastinya menyulitkan dan membuat papa mamanya lelah.

tan·trum

ˈtantrəm/Submit

noun

an uncontrolled outburst of anger and frustration, typically in a young child.

Tantrum, menurut versi wikipedia atau temper adalah ledakan emosi, biasanya dikaitkan dengan anak-anak atau orang-orang dalam kesulitan emosional, yang biasanya ditandai dengan sikap keras kepala, menangis, menjerit, berteriak, menjerit-jerit, pembangkangan, mengomel marah, resistensi terhadap upaya untuk menenangkan dan, dalam beberapa kasus, kekerasan. Kendali fisik bisa hilang, orang tersebut mungkin tidak dapat tetap diam, dan bahkan jika “tujuan” orang tersebut dipenuhi dia mungkin tetap tidak tenang.

Fiuh. Yeps. It happens. Damar tantrum. Yang menurut kami paling parah (dan kebetulan saya menghadapinya langsung) adalah ketika kami sedang berkunjung ke rumah salah satu Eyang (adiknya Eyang Putri) di Ciputat. Awalnya Damar bermain seperti biasa. Bahkan ketika dalam perjalanan, dia sempat tidur di mobil dan tidak muntah (catatan: Damar ada kecenderungan muntah ketika di perjalanan darat yang cukup jauh).

Dimulai setelah makan siang, cuaca panas, mereka main sana sini. Tentu lelah. Kakak-kakak sepupunya pada ngajak nonton film di kamar salah satu sepupunya. Nontonlah mereka bersama-sama. Pas sudah sekitar jam 4an, yang kecil-kecil pada mau main basket. Bre dan Bimo, sepupunya. Ikutlah Damar. Juga Tiara. Karena kami saat itu pergi tanpa mbak, tentu kami harus menangani anak sendiri, suami juga saya. Maklum, anak 3 hehe..

Pas Bre, Bimo dan Alvey main basket, mereka sepantaran dan sudah bisa mengendalikan bola sendiri. Damar yang kecil tentu belum bisa. Dia ngotot minta giliran. Ketika dikasih giliran, gak mau gantian. Ngotot. Sementara ga enak ya sama yang lain. Kasian. Akhirnya saudara-saudaranya pulang ambil bola lagi. Damar bilang: mau bobok. Trus saya ajak pulang, bilangnya: mau main. Berulangulang sampai puluhan kali. Intinya adalah dia capek, ngantuk tapi ga tahu maunya apa dan ga bisa mengambil keputusan. Akhirnya dia setengah saya geret (disini saya salah sebenarnya). Sudah mulai tenang di dekat mobil, lagi berulang kejadian yang sama.

Mamaknya pun mulai emosi. Akhirnya kami naik ke mobil. Dia meronta, menangis dan turun mobil sendiri. Aduh…chaos banget deh! Kesel banget yang ada. Itu sudah dengan dia meronta di mobil dan mencakar wajah saya dan sempat mendorong perut mas Bre. 🙁

Akhirnya saya pun membiarkan dia nangis, teriak, dan kami pun pamit. Dengan dalih bahwa dia sudah mengantuk. Tak lama kemudian, kurang dari 5 menit, Damar pun tertidur. Tiara juga Bre. Dengan kondisi badan masih bau matahari, kaki penuh pasir. Ya sudahlah. Yang penting mereka tidur di perjalanan.

Kejadian serupa terjadi beberapa kali. Namun ketika sudah tenang, saya mencoba menganalisa. Mencoba untuk mengerti kondisi ketika saya berada di posisinya Damar. Dan belajar untuk lebih bersabar, dan tidak melulu memikirkan “duh..ga enak banget nih sama tetangga”, atau “ih…Damar bikin malu mama deh”, pemikiran seperti itu akan membuat kita terintimidasi dengan pikiran sendiri atau asumsi orang lain.

Lalu, bagaimana tips ke depannya?

  1. Ketika mulai tantrum, jangan diintimidasi atau diancam, tapi alihkan ke hal yang menyenangkan. Pada dasarnya, setiap anak pasti menurut, di akhir kejadian. Saat mulai hinggap pikiran: aduh..kok Damar begini sih? Alihkan dengan pikirnya: sebaiknya apa yang disampaikan ya supaya si anak senang? Dan ternyata Damar pun berubah, menjadi lebih lunak dan tenang.
  2. Jangan dibandingkan, atau dipaksa mengikuti kehendak kita atau orang lain. Cara ini pernah kami coba. Hasilnya? Alih-alih anak tenang. Yang ada dia akan semakin protes, marah dan memberontak. Akibatnya, dia bisa mulai protes dengan menyakiti orang lain. Seperti yang tadi saya ceritakan. Saya pernah dicakar, Bre pernah dipukul perutnya. Sedih. Banget.
  3. Diamkan dulu dan dengarkan. SABAR. Mungkin kalau di supermarket ada stok SABAR saya sudah beli duluan.
  4. Duduk, diam dan dengar. Kadang mereka hanya ingin didengar. Pernah kejadian beberapa hari lalu, kami berpiknik di halaman sebelah rumah. Damar mulai cranky. Katanya ngantuk. Akhirnya saya ikuti, dia ke kamar, tidur-tiduran sambil menyusui Tiara. Selang 10 menit kemudian, dia bilang: “Mama, aku mau ikut main di luar”. Oke. Yuklah kita main lagi. Positifnya, mama juga dapat kesempatan 10 menit tiduran sambil nyusuin. Lumayan kan?

Berikutnya, ketika anak sudah selesai dengan tantrumnya, apa yang harusnya disampaikan?

Damar itu pada dasarnya romantis. Beberapa kali ketika siang harinya dia melakukan kesalahan, pas pillow talk sama saya, dia bilang, Ma, mama cantik banget deh! Ma, mama baik banget deh. Ibu mana sih ga yang meleleh dibilang begitu sama anaknya. Sama, Damar pun pas malam, dia bilang begitu sama saya. Karena setelah selesai tantrum, dia langsung saya peluk. Saya cuma bilang kalau Mama sayang sama Damar. Damar jadi anak yang pintar dan baik ya.

Ketika saya sudah mencoba untuk berdamai dengan tantrum-nya Damar dan mengikuti polanya, diapun semakin lunak dan bisa diajak bekerjasama. Ini salah satu proses belajar saya, sebagai Ibu. Bagaimana dengan kamu?

Mama loves you, Damar.

tantrum pada anak

Leave a Reply

%d bloggers like this: