Tinggal di Cibubur, Kerja di Jakarta?

Setelah resepsi pernikahan dan pemberkatan, suami dan saya tinggal di Cibubur. Di sebuah perumahan milik Sinar Mas Land. Yaitu awal 2010. Kala itu, kami beruntung karena ada seorang teman yang meminta kami tinggal di rumahnya yang kosong karena dia sendiri dinas di luar Jawa. Dan puji Tuhan tahun 2010 akhir, kami nekat membeli rumah sendiri di kompleks yang sama. Sedangkan saya sendiri tetap bekerja di daerah Thamrin. Jauh dong…banget! Haha tapi puji Tuhan hingga kini, saya tetap bertahan menjadi commuter yang setiap pagi berangkat subuh dan pulang tiba di rumah hari sudah gelap.

Duluuu…sempat merasa terintimidasi, nelongso dan mengasihani diri sendiri karena merasa tidak menjadi ibu yang baik. Karena saya bekerja di luar rumah. Merasa ga bisa kasih waktu yang terbaik dan maksimal ke anak. Juga pernah mengalami hamil anak pertama pas usia kandungan 7 bulan kena macet di jalan pulang hampir 4 jam di tol dalam kota. Been there. I passed. And i survived! Praise the Lord!!!

Lingkungan di Legenda Wisata

Lalu, sering saya ditanya, kenapa sih tinggalnya jauh banget? Ngebela-belain banget tinggal jauh dari kantor. Beberapa pertimbangan suami dan saya memilih tinggal di Cibubur:

  1. Anak. Prioritas ketika sudah punya anak ya pasti anak lah ya. Mamak mau beli beha harga 150ribu aja mikir ah mending buat beliin baju atau mainan anak. Para mamak, pasti mengamini. Suami dan saya menghabiskan masa kecil kami di daerah. Suami di Blabak Magelang dan saya di Pekanbaru. Masa kecil kami dipenuhi dengan kesempatan bermain di halaman, bebas ke mana saja dan less gadget dan TV. Manjat pohon, main sepeda dengan bebas tanpa takut ada kendaraan besar. Kalau tinggal atau cari rumah di pusat kota, tentu MUAHAL pake banget dan secara finansial, kami sebagai pasangan muda, belum mampu. Di tempat kami tinggal sekarang, anak-anak bebas bermain di depan rumah, di halaman dan di taman umum milik kompleks. Manjat pohon, belajar berkebun dan belajar dari alam. Memang jauh, macet tapi fokus ke anak, semua terasa lebih ringan dan iklas.
  2. Keamanan. Sebagai pasangan yang bekerja di luar rumah dan tinggal jauh dari orangtua juga keluarga, kami perlu jaminan keamanan ketika rumah dan anak kami tinggal seharian. Ya walau keamanan hidup semua datang dari Tuhan pastinya. Namun dengan tinggal di perumahan Sinar Mas Land dengan sistem cluster sangat menolong kami dari sisi keamanan.
  3. Tenaga bantuan rumah tangga. Beruntungnya tinggal di perumahan adalah banyaknya tenaga harian yang bisa membantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Drama asisten rumah tangga pasti dihadapi setiap ibu rumah tangga baik yang bekerja di rumah maupun di luar rumah. Cocok-cocokan juga sabar-sabaran. Karena kompleks perumahan bersebelahan dengan perkampungan warga, jadi banyak pula referensi untuk tenaga bantuan rumah tangga hingga tukang pijet yang bisa dipanggil ke rumah. Bonus kan 🙂
  4. Polusi. Sebagian besar dari kita sudah tahu bahwa tingkat polusi di Jakarta sudah cukup tinggi. Mungkin kami agak parno tapi kami prefer tinggal di pinggiran dengan udara yang masih segar dan banyak pepohonan. Alih-alih tinggal di Jakarta dengan kualitas udara yang mungkin kurang bagus untuk anak. Jadi lebih baik kami yang berkorban demi anak-anak.

Capek ga? Ya iyalah..menurut ngana…. Saat awal saya tinggal di Cibubur masih keburu berangkat jam 5.30 atau bahkan jam 6 dan sampai di kantor Thamrin jam 7.45 maksimal. Sekarang, saya lebih memilih berangkat jam 5, lanjut tidur di jalan dan sampai di kantor jam 6.15 atau 6.30. Lalu ngapain? Dulu sih browsing kalau sekarang nge-blog. Gaya banget ya! Sampai jam 8 lanjut kerja. Jam 5an pulang dan sampai di rumah jam 7.30an malam.

Trus, emang ga bosen? Ga stress? Yahh kalau diikutin sih mau aja di rumah. Tapi sempat terpikir. Apa iya di rumah ga stress? Problems are everywhere. Akan ada waktunya ketika Tuhan izinkan dan mampukan mamak beranak 3 ini tinggal dan kerja di rumah. Tapi untuk saat ini, saya masih mematuhi pesan dari Ibu saya. Katanya:

Jadi perempuan itu harus mandiri. Kamu ga boleh hanya minta uang dari suami. Tapi harus tetap punya penghasilan.

Emang bisa merawat anak dengan waktu yang terbatas di hari kerja? Kalau boleh berbagi, ini yang saya dan suami lakukan:

  1. Efisiensi waktu. Begitu sampai di rumah, i put down my gadget. Habiskan dan maksimalkan waktu bersama mereka. Jadi kalau sampai di rumah, ya langsung sama mereka. Kadang jam 8 atau 8.30 kami sudah masuk kamar. Kadang anak kedua saya masih suka merengek minta nonton di gadget di kamar. Saya kasih namun ketika melihat saya bermain dengan seru bersama kakak dan adiknya, dia pun naro gadgetnya dan ikutan bermain.
  2. Doa bersama. Secapek apapun, kalau bisa sebelum tidur kami duduk bersama dan doa. Kalau misalnya ada salah satu yang sakit, didoakan. Dan kami juga meminta anak pertama untuk ikut berdoa. Emang anak-anak bisa diem pas diajak doa? Awalnya sih main sana, colek sini, kadang yang nomor 2 sukanya usil. Ga mau pegang tangan adeknya lah, atau usilin mas-nya lah. Tapi in the end, pelan-pelan mereka ngerti. Kadang kita mulai dengan 1 lagu penyembahan yang mereka sudah kenal.
  3. Pillow talk. One of the best moment adalah ketika ngobrol sama mereka jelang tidur dengan lampu sudah dimatikan sambil saya nyusuin anak paling kecil. Ceritanya lucu-lucu. Mas-nya yang cerita, ga lama adiknya ikutan nimpalin ga mau kalah. Komennya suka lucu. Mas-nya suka ngakak sendiri. Lalu yang paling kecil juga suka ga mau ketinggalan, kadang lepas nenen cuma komen kata terakhir karena masih belajar ngomong, plus ikutan ketawa. Ga lama, paling 10 sd 15 menit. Tapi bagi saya, itu lebih berkualitas daripada seharian bersama mereka tapi tidak “bersama” secara full.
  4. Maksimalkan akhir pekan. Semenjak pertengahan 2017, kami hanya menggunakan 1 orang asisten rumah tangga, karena kebetulan suami bekerja di rumah dan hanya hari-hari tertentu harus kerja di luar rumah. Demi efisiensi anggaran, kami mempercayakan si teteh ini untuk membantu mengasuh anak dan rumah. Namun, ketika akhir pekan (sabtu pagi sd minggu sore), kami memberikan kesempatan teteh untuk pulang. Dia tinggal di kontrakan yang dekat dengan cluster kami, bersama anak dan cucunya. Jadilah, sabtu dan minggu, anak-anak dan urusan rumah tangga, suami dan saya harus bekerja sama. Awalnya sempat kok kami bertengkar hebat dan marah satu sama lain di depan anak. Karena belum terbiasa dengan ritme dan masih belajar menyesuaikan diri. Tapi, kami lalu memeluk anak-anak dan satu sama lain meminta maaf. Berat, capek, jenuh? Ya memang. Mau ga mau harus dijalani, disyukuri, dinikmati. Dan ketika kami sudah mulai terbiasa, anak-anak jauh lebih berempati, mudah diajak bekerjasama dan lebih mengerti jika diberi tahu dan diminta untuk membantu pekerjaan rumah tangga. Kami ga selalu keluar rumah, ke mall atau bepergian ketika weekend. Tapi satu hal yang kami upayakan adalah jalan kaki bersama-sama. Itung-itung team building kalik yah…hehehe
  5. Bersyukur, bersyukur, bersyukur. Salah satu kunci yang sering menghambat banyak hal adalah ketika kita lupa bersyukur. Mau seberat, secapek apapun, ketika kita bersyukur untuk apa yang sudah kita miliki, pasti segala sesuatu terasa lebih ringan. Saya bersyukur sekali Tuhan cukupkan saya untuk menyusui anak-anak saya full ASI selama 6 bulan walau saya bekerja. Komitmen, niat dan iklas. Kalau menyusui, kuncinya buat saya cuma itu. Mau booster ASI semahal apapun, kalau dipikiran kita ngoyo, maksain, atau apapun itu, asi seret ya tetap seret. Namun ketika kita iklas, mau ada atau engga, ya tetap iklas dan bersyukur, pasti ada hasilnya.

Jadi ya itu sih. We never be able to satisfy everyone. We might want to be perfect, but at least we already tried. Buat Ibu-ibu bekerja di luar rumah yang berangkat subuh pulang malem, juga para ibu yang kerja di rumah non-stop 24 jam, mana suaranyaa…toss dulu kita yaa sodara-sodara. Semangat dan jangan lupa, beli stok sabar dan senyum di toko kelontong terdekat. Kalian semua hebat! Love you!

Lingkungan di Legenda Wisata
Bersama Oma yang tinggal di dekat rumah

4 Comments

  1. Hotel Rooms Inc Semarang - bincang ringan ariwita

    April 11, 2018 at 3:10 am

    […] informasi tentang fasilitas yang ditawarkan oleh Rooms Inc. Hotel yang merupakan bagian dari Sinar Mas Land ini berada di pusat kota Semarang, Jawa Tengah menawarkan 3 jenis kamar, yaitu Standard, Superior […]

  2. Sharing is Caring - bincang ringan ariwita

    May 4, 2018 at 2:31 pm

    […] seorang commuter yang berkantor di Jakarta dan tinggal di pinggiran Jakarta, saya pun mempunyai “geng” […]

  3. Menulis itu Asyik! - bincang ringan ariwita

    May 11, 2018 at 4:22 am

    […] saya, sebagai ibu bekerja, cerita yang paling berkesan adalah  pengalaman Ibu Melly Kiong penggagas Mindful Parenting. […]

  4. Berdamai dengan Diri Sendiri - bincang ringan ariwita

    June 21, 2018 at 9:20 am

    […] Saya pernah mengalami pelecehan seksual di dalam kendaraan omprengan yang saya tumpangi. Kalau ibu-ibu yang berangkat kerja subuh pasti masa berada di jalan adalah momen bisa rehat sejenak barang 1 jam. Kesempatan ini digunakan […]

Leave a Reply

%d bloggers like this: