Belajar Mendengar di Student Led Conference

Beberapa waktu lalu, saya mengambil cuti 1 hari untuk hadir dalam student led conference yang diselenggarakan sekolah anak saya, Bre, di Wander n Wonder Primary School. Hemm…salah mamak, ga browse dulu cari tau tentang SLC ini. Jadi agak kagok dan have no clue, what to do or what to say. Berdasarkan acuan dari sekolah, bahwa anak akan diminta untuk menyampaikan portfolio mereka dan memberikan penjelasan serta pencapaian mereka selama semester ini. Juga para orang tua diberikan beberapa referensi pertanyaan yang dapat menggali cerita ataupun penjelasan dari anak. Bincang ringan soal SLC yuk!

Barusan mamak pun sempat ngintip disini tentang SLC. Jadi intinya si SLC ini adalah semacam laporan dari sekolah tentang perkembangan akademik si anak. Namun alih-alih disampaikan oleh guru ataupun dalam bentuk laporan tertulis, anak diminta untuk memberikan presentasi kepada orangtuanya tentang capaiannya sepanjang tahun hingga saat SLC diselenggarakan.

Belajar dari Anak - Student Led Confrence

Hari itu, Bre berangkat sekolah pada jadwal seperti biasa, dan orangtua diminta kehadirannya sebelum pukul 9 pagi karena nanti akan diurutkan berdasarkan kedatangan. Karena siangnya saya masih ada janji, jadi saya ke sekolah lebih awal. Jam 8.45 saya (dan Damar tentunya) sudah sampai di sekolah.Pos 1, Bre memberikan penjelasan tentang portfolio achievement dan kegiatan belajar yang dilakukannya dari awal P1 hingga kini. Baik dari membaca, menulis, menghitung, agama dan juga art. Satu hal yang saya lihat disini metode bermain sambil belajar benar-benar diterapkan. Mereka membuat kreatifitasnya sendiri untuk menyampaikan portfolionya.

Lalu lanjut ke station membaca. Disana Bre diminta untuk memilih buku bacaan sederhana, diapun memilih satu lalu membacakan buku sederhana dalam bahasa inggris itu. Lalu kemudian lanjut ke food pyramid. Tema mereka beberapa waktu lalu adalah tentang food. Makanan yang sehat dan yang tidak. Sayur favorit Bre adalah brokoli dan wortel. Puji Tuhan sekarang Bre jauh lebih mudah makannya dibanding waktu masih kecil. Dan lanjut Bre cerita tentang project membuat food pyramid itu bersama teman-temannya. Dibuat dari tutup botol air mineral, lalu tutupnya ditempel dengan warna yang sama dengan latar belakang dari jenis makanan yang sehat, tidak sehat, juga junk food. Seru sih. Kebayang gimana rusuhnya saat mereka membuat dan menyusun karya ini. Lanjut ke station math. Bre diminta mengambil 2 bola, lalu dari bola tersebut ada angka dan Bre diminta menambahkan atau mengurangkan. Bre memutuskan untuk mengurang angka-angka yang ada di bola tersebut. Hehehe dulu kalau saya kecil modelnya seperti ini, it must be fun as well dan mamak jadi lebih suka math 😀 Coba tebak pelajaran favoritnya Bre? Yup. Math is. 

Belajar dari Anak - Student Led Confrence
Aku bikin Monas dari botol Pristine, Ma!

Next adalah project membuat kota. Anak-anak diminta membangun kota dan mengisi dengan bangunan-bangunan sesuai imajinasi mereka. Ada yang membuat hotel dari gulungan tisu bekas, ada yang membuat gedung perkantoran dari bekas kotak susu. Tebak Bre bikin apa? Bikin gedung Sinar Mas. Ahey…wakakakak gegara beberapa kali diajak ke kantor mamak and he had a great time di kantor jadilah terkenang-kenang ya nak. Terakhir, Bre cerita bahwa mereka bikin project dari botol air mineral bekas, yaitu membuat Monas. Tebak dong dari apa? Dari botol pristine bekas saja sodara-sodara. Hahaha…

Belajar dari Anak - Student Led Confrence
Ma, I built Sinar Mas Building 😀

Dari SLC yang pertama kali saya ikuti, saya melihat beberapa hal positif, baik buat saya dan juga untuk Bre. Wander n Wonder Primary 1, especially Miss Martha sebagai guru untuk 8 murid yang lucu dan menggemaskan ini, did a very great job!!!

Catatan dan kesan saya antara lain:

  1. Belajar percaya diri. Ketika seorang anak dibesarkan dengan penghargaan, pujian juga kritikan yang membangun, dia akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri. Dalam SLC, Bre bisa memberikan presentasi dengan komprehensi dalam waktu 15 menit, dia bisa bercerita tentang capaiannya. Dan dia terlihat bangga dengan apa yang sudah ia lakukan.
  2. Belajar mendengar. Bagi para orangtua, terkadang merasa dipuaskan dengan nilai yang bagus dalam laporan rutin. Tapi dengan terlibat dan melihat secara langsung, saya pribadi belajar mendengarkan apa yang dituturkan oleh anak, disampaikan oleh mereka dalam SLC.
  3. Belajar menghargai. I really proud of Bre’s work. Dan mau bagaimanapun, dia sudah berusaha melakukan bagiannya. Kok ga minta untuk improve atau harus lebih rajin lagi? Bagi saya, kalau anak menikmati proses belajar di sekolahnya atau dimanapun, dia akan belajar dengan sendirinya. Lebih penting dia tumbuh menjadi dirinya sendiri, unik dan genuine. Daripada dipaksakan belajar untuk nilai yang tinggi. Lebih baik dia menjadi pribadi yang berempati, memiliki etika, sopan santun tapi juga tegas, dari pada menjadi anak yang semata-mata hanya memikirkan keinginan dirinya sendiri (well..ini masih a long way to go, tapi saya berdoa bahwa Bre menjadi anak yang tulus dan punya empati).

Pesan saya untuk Bre adalah agar dia tumbuh menjadi pribadi yang kuat. I know I am not a perfect mom, I still yell at my kids, still got angry with them, kalau capek juga suka marah-marah. But far beyond that, I am THANKFUL to have them in my live. Thanks to Wander n Wonder School yang sudah menolong saya dalam memberikan pendidikan dasar yang menyenangkan untuk Bre. Keep on growing and be a blessing. 

Belajar dari Anak - Student Led Confrence
Bre, Damar & Ms. Martha

1 Comment

  1. Tips Memilih Sekolah untuk Anak - bincang ringan ariwita

    April 6, 2018 at 10:06 am

    […] mamak bapak masih harus terus ditingkatkan). Eh ya kok taunya Wander n Wonder membuka kelas untuk Primary School! Akhirnya…segeralah Bre mendaftar. Pokoknya minimal murid 2, P1 jalan. Begitu kata Ms. Alex. […]

Leave a Reply

%d bloggers like this: