Tips Memilih Sekolah untuk Anak

Memiliki anak yang sudah memasuki usia sekolah tentu orangtua pun harus berpikir untuk memasukkan di sekolah mana. Ketika awal nikah, hamil anak pertama, cita-cita saya sederhana. Jadi ibu rumah tangga, kerja di rumah, besarin anak dan anak semua homeschooling. Ya, saya jatuh cinta dengan metode homeschooling. Bukan sekedar panggil guru lalu ngajarin anak di rumah. Buat saya itu bukan homeschooling. Tapi sekolah di rumah lebih melibatkan orang tua secara utuh untuk memberikan pendidikan kepada anak. Akhirnya saya banyak mencari, baca dan berkenalan dengan beberapa keluarga yang menjadikan homeschool sebagai metode mereka untuk memberikan pendidikan anak-anaknya.

Namun karena Tuhan belum izinkan saya untuk menjadi stay at home mom dan menerapkan metode homeschool untuk pendidikan anak kami, mulailah saya mencari sekolah untuk pendidikan dasar anak pertama saya. Pendidikan dasar adalah fondasi bagaimana ke depannya si anak itu menyikapi setiap ilmu pengetahuan ataupun pelajaran yang ia dapatkan. Sedikit saya share yang bagaimana tips memilih sekolah untuk anak:

  1. Jarak. Buat saya dan suami, anak sekolah TK dan SD belum perlu mengejar sekolah yang kualitasnya luar biasa tapi lokasinya jauh. Lebih baik energi anak disalurkan untuk bermain daripada habis di jalan. Kebetulan kami tinggal di perumahan Legenda Wisata yang berseberangan dengan Kota Wisata – dan keduanya memiliki beragam pilihan sekolah yang bagus. Namun kami tetap berprinsip kalau bisa TK dan SD sekolah tidak keluar kompleks. Bisa ditempuh dengan sepeda motor, bahkan mungkin nantinya sepeda jika si anak sudah sedikit lebih besar.
  2. Metode belajar. Sekolah itu yang penting menyenangkan. Saya ingat waktu saya kecil, TK dan SD merupakan masa yang menyenangkan. Dan jika ditelusuri sekarang, sekolah sepertinya saling berkompetisi satu sama lain. Berusaha untuk menunjukkan prestasi dan akibatnya, biaya sekolah membengkak dan anak juga diforsir untuk mempertahankan prestasi, drill dengan konsep bahwa anak hebat adalah anak dengan nilai yang bagus (tanpa memikirkan proses). Itu menjadi satu pertimbangan saya,  bahwa sekolah anak harus menyenangkan bagi anak itu sendiri, ada keterlibatan anak dalam belajar tidak hanya satu arah (dikte), ataupun mementingkan nilai akhir/peringkat, alih alih melihat proses.
  3. Tenaga pengajar. Ketika kita “menitipkan” anak kita di sekolah, tentu kita ingin melihat anak kita berinteraksi dengan pengajar yang perhatian, tulus dan memang suka dengan anak-anak. Kakak saya pernah cerita bahwa anaknya yang bungsu sekolah di sekolah yang lokasinya dekat dengan rumahnya. Tapi anaknya tidak pernah mau disentuh oleh kepala sekolahnya. Karena memang sepertinya kepala sekolahnya tidak suka dengan anak-anak. Sedih ga sih? Kalau seperti itu, anak bisa mendapat rasa penolakan dari orang yang berperan penting di sekolahnya.
  4. Fasilitas & gedung. Hemmm buat saya dan suami, bangunan gedung merupakan tambahan dari sekolah itu sendiri. Tapi ketika metode, tenaga pengajar dan sistemnya bagus, ya pelajaran bisa dilakukan dimana saja. Tidak harus dengan gedung yang bagus atau megah. Yang terpenting adalah anak merasa nyaman di sekolah, lokasinya juga aman, dan yang pasti bagi mereka, sekolah adalah tempat yang menyenangkan untuk belajar, bermain dan berinteraksi.
  5. Biaya. Kemampuan setiap orang untuk menyekolahkan anak tentu berbeda, bisa disesuaikan dengan kemampuan finansial masing-masing.Juga pihak sekolah yang bisa diajak berdiskusi untuk kemampuan orangtua dalam menyekolahkan anaknya di tempat tersebut.
  6. Referensi. Baiknya ketika mau memasukkan anak ke sekolah, bisa dicek ke teman atau keluarga yang anaknya telah bersekolah di tempat yang sama. Biasanya it works. Tapi juga baiknya kenali dengan baik teman yang memberikan referensi. Apakah orangnya baperan, logis, idealis atau simpel. Karena penilaian tiap orang tentunya berbeda sesuai dengan pengalaman.
  7. Trial class. Biasanya sekolah menawarkan untuk trial class. Dan anak saya mencoba 2 sekolah waktu itu. Alhasil di sekolah tempat ia belajar sekarang, waktu trial ga mau diajak pulang. Beda dengan sekolah yang satunya. 🙂
  8. Intuisi. Orangtua biasanya punya intuisi. Demikian pula dengan anak. Ketika orangtua sudah sreg dengan 1 sekolah, ada baiknya biarkan juga anak memilih. Saya ajak Bre diskusi waktu itu, dia mau sekolah di mana. Dan dia memilih: Wander n Wonder,  Ma!

Waktu itu memang Wander n Wonder yang memenuhi syarat ke 8 tips yang saya share di atas tadi. Eh kecuali nomor 6 ding. Waktu itu belum kenal ibu-ibu ataupun teman yang anaknya or saudaranya sekolah di sana. Ketika saya tahu bahwa Foundernya adalah Alexandra Silitonga, saya pun melakukan penelitian (via internetlah tentungnya). Dan menemukan hal yang positif tentang beliau, salah satunya (yang saya baca di the goodreads), beliau adalah orang Indonesia pertama yang menjadi International Baccalaureate (IB) Workshop Leader untuk wilayah Asia Pasific . Bahwa kiprahnya banyak di luar negeri, metode pendidikan yang digunakan adalah play based learning (bermain sambil belajar), cocok dengan impian saya bahwa anak belajar harus dengan metode yang menyenangkan.

Wander n Wonder awalnya berdiri sebagai pre-school. Nah ketika Bre mulai masuk kelas Kindergartgen (KG) mamak mulai kembali galau. Mau SDnya dimana! Hiks..belum nemu yang sesuai dengan 8 kriteria di atas. Mau homeschooling mamak bapak belum bisa terutama dari sisi waktu (juga mungkin kesiapan mental dan kesabaran mamak bapak masih harus terus ditingkatkan). Eh ya kok taunya Wander n Wonder membuka kelas untuk Primary School! Akhirnya…segeralah Bre mendaftar. Pokoknya minimal murid 2, P1 jalan. Begitu kata Ms. Alex. Puji Tuhan, sekolah P1 sudah berjalan hampir 1 tahun – dan Bre punya 7 orang teman – jadi muridnya 8 orang, sama Bre. Dan tahun ini, sekolah dalam tahap usaha untuk memiliki gedung yang lebih proper (dimana saat ini berlokasi di 2 unit ruko 2 lantai). Dengan pertumbuhan dan penambahan murid yang cukup signifikan dari tahun ke tahun, saya senang Bre menemukan sekolah yang memberikan kesempatan untuk dia eksplorasi banyak hal dan juga berekspresi. Ketika anak mau SD dan ternyata sekolahnya lanjut buka SD, it’s like an answered prayer. God is so good. Thanks to Wander n Wonder!

Semoga tips memilih sekolah untuk anak dari saya bisa membantu mamak dan bapak sekalian. Ini versi saya. Kalau ada yang mau share versi mamak bapak sekalian, tentu dengan senang hati diterima! Terima kasih sudah membaca. Tuhan memberkati.

1 Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: