Berdamai dengan Diri Sendiri

Sebagai manusia, pasti semua dari kita tidak lepas dari kesalahan. And so do i. Sebagai orangtua, istri, anak dan juga wanita, saya kerap berbuat salah. Mumpung masih momen Lebaran, kita bincang ringan soal memaafkan yuk!

Mudah diucap tapi sulit untuk dilakukan. Apalagi jika itu menyangkut kesalahan yang orang lain lakukan kepada kita. Atau mungkin pertikaian dengan orangtua saat kita remaja, atau bahkan mungkin beberapa teman yang berasal dari keluarga yang orangtuanya berpisah, juga trauma saat persalinan.

Maaf. Salah satu kata dan kebiasaan yang saya coba tanamkan kepada anak-anak sedari dini. Mungkin saat ini mereka belum terlalu paham artinya dan konsepnya. Namun satu hal yang saya dan selalu ingatkan suami juga untuk lakukan adalah meminta maaf kepada anak jika kami, ayah dan ibunya melakukan kesalahan atau membuat mereka kecewa (contoh: ingkar janji, membentak atau memarahi mereka atas kesalahan yang tidak mereka lakukan).

Memaafkan diri sendiri. Percaya atau tidak, berdamai dengan diri sendiri adalah satu hal yang mendasar dan perlu kita lakukan. Banyak trauma atau kekecewaan yang kita alami akibat dari ekspektasi atau harapan yang terlalu tinggi. Sehingga ketika hal tersebut tidak tercapai, kita mengalami kekecewaan dan tak jarang menyalahkan diri sendiri. Saya selalu bercita-cita untuk melahirkan normal, lancar dan menyenangkan. Kehamilan pertama saya jalani dengan mudah. Namun saat persalinan, ternyata semua buyar ambyar dari bayangan saya bahwa melahirkan tinggal ngeden, suami ngelus-ngelus, dan bayi keluar. Way no. Perlu usaha. Hingga akhirnya ada pembuluh darah di wajah yang pecah karena saya salah ngeden, lalu anak harus di vakum karena saya sudah kecapekan. Belum selesai dramanya. Anak saya masih harus masuk ruang NICU selama 10 hari karena bilirubin tinggi, ASI serta proses menyusui pun ternyata tidak semudah yang saya kira. Lagi-lagi, knowledge is power. Saat itu saya merasa, saya sudah membaca, banyak bertanya, berdoa, ternyata rencana Tuhan beda sama apa yang saya bayangkan. I blame myself, my husband, segala kesombongan saya bahwa saya tahu caranya. Ternyata saya salah. In the end, saya cuma bisa iklas, berdamai dengan apa yang sudah saya alami dan memulai lagi dengan hati penuh syukur dengan apa yang saya alami. Karena semua kejadian, baik itu indah maupun buruk, kita harus tetap bisa mengucap syukur. Mudah untuk bersyukur saat senang, namun Tuhan akan jauh lebih senang jika kita tetap bisa bersyukur di saat susah. Percayalah, belajar untuk tetap bisa bersyukur saat susah, jauh lebih melegakan dibanding ketika kita bersyukur di saat senang. Akhirnya, jika kita bisa memaafkan diri sendiri, berdamai dengan diri kita apa adanya, menerima diri kita lebih dan kurangnya, semoga Tuhan juga membukakan dan memudahkan setiap langkah kita.

Berdamai dengan Diri Sendiri

Memaafkan masa lalu. Kita tidak bisa menghapus masa lalu. It was. It still there. Kita bisa menyesali segala kelalaian atau mungkin perasaan dikecewakan oleh orang terdekat di masa lalu kita. Atau bahkan oleh orang yang tidak kita kenal sama sekali. Namun apakah kita mau selalu berkubang dalam rasa kecewa itu? Dalam masa lalu kita? Mungkin kamu akan bilang: ah mudah ngomongnya tapi coba deh kalau kamu ada di posisi saya. Iya, saya setuju. Mudah diucapkan, tapi sulit dilakukan. Semuanya balik lagi ke niat. Saya pernah mengalami pelecehan seksual di dalam kendaraan omprengan yang saya tumpangi. Kalau ibu-ibu yang berangkat kerja subuh pasti masa berada di jalan adalah momen bisa rehat sejenak barang 1 jam. Kesempatan ini digunakan oleh bapak-bapak usia awal 50an mungkin ya dengan tampilan soleh (berpeci, dengan tas selempang, jaket dan celana sedikit cingkrang, juga berjenggot). Ternyata bapak itu sering menggerayangi ibu-ibu yang sedang tidur. Bagaimana saya tahu? Karena ketika saya duduk berjejeran dengan bapak tersebut, tas saya taruh di pangkuan, dan ketika saya membuka mata, tangan si bapak hampir sampai di paha saya. Dan orangnya pura-pura tidur. Saya emosi, dan mengambil gambar (foto) si bapak dari samping. Kemudian ia buru-buru turun dari kendaraan. Ketika saya cerita ke supir, supir tersebut pun sadar kalau bapak ini sering naik kendaraannya dan selalu duduk di sebelah ibu-ibu. Dan ada ibu lain yang juga dalam kendaraan yang sama saat itu bercerita bahwa dia juga pernah mendapat pengalaman tidak menyenangkan serupa yang dilakukan oleh bapak tersebut. Kesal? Banget! Saat itu saya sempat ingin tinggal di rumah, marah dengan keadaan, benci sekali rasanya. Sumpah serapah keluar dari mulut saya karena rasa marah atas keadaan, kenapa saya harus berangkat subuh, bekerja, dan ini yang saya dapatkan, mendapatkan pelecehan ketika berangkat kerja. Belum lagi sempat ada yang komen begini ketika saya cerita: yakin lo kesel? bukannya seneng? Pengen nimpuk rasanya orang yang masih komentar seperti itu. Well, akhirnya saya pun berusaha memaafkan orang yang melakukan hal yang kurang menyenangkan itu. Saya sempat beberapa bulan tidak berani tidur di perjalanan berangkat kerja. Dan hingga kini, walau kejadian sudah berlalu hampir 3 tahun lalu, saya masih berhati-hati melihat siapa yang duduk di samping kiri kanan saya saat di kendaraan umum. Memaafkan dan berdamai dengan masa lalu. It takes times, days, weeks, months and maybe years buat beberapa kasus. Namun saya terus mengucapkan bahwa saya memaafkan orang itu, saya berdamai dengan kejadian itu, saya mengampuninya, saya melepaskan pengampunan kepada orang tersebut, atas kejadian tersebut. Dan ya sekarang saya hanya bisa berkata: kasihan sama orang yang tampilannya soleh tapi kelakuannya seperti itu. Saya sempat berpapasan dengan bapak tersebut di mall dekat rumah, beliau bersama istrinya (yang juga berpakaian soleha, serba tertutup). Dalam hati saya hanya berucap: sedih sekali istrinya yang tidak mengetahui kelakuan suaminya, atau jika ia memiliki anak perempuan, apa tidak takut terhadap karma. Berdamai dengan masa lalu, tidak mudah. Namun terus latih, ucapkan dan bersihkan setiap sampah batin masa lalu. Agar ketika kita melangkah ke masa depan, tidak terbebani dengan pengalaman lalu yang tidak menyenangkan, agar kita bisa percaya bahwa masa depan kita ada di tangan Tuhan, dan rencana Tuhan selalu baik buat kita.

Memaafkan orangtua, pasangan, keluarga, sekitar kita. Ada pepatah yang bilang bahwa kita tidak bisa memilih di keluarga mana kita dilahirkan. Saya bersyukur saya terlahir di keluarga yang utuh, orangtua saya menikah dan merayakan pernikahan emasnya tahun 2015 lalu. Saya memiliki 2 orang kakak laki-laki dan 1 orang kakak perempuan. Kami semua rukun, saling mengasihi satu sama lain, walau tinggal berjauhan dan sudah memiliki keluarga masing-masing. Tapi percayalah, setiap keluarga pasti memiliki cobaan dan ujian. Saya dan kakak perempuan saya dulu sempat tidak akur saat kecil, namun ternyata ketika dewasa, kami saling menjaga satu sama lain. Anggota keluarga kami pun tidak sempurna. Bapak pernah melakukan kesalahan, mama juga. Namun kami selalu berusaha memaafkan dan menerima satu sama lain. Karena bapak selalu berkata: mau kalian melakukan kesalahan apapun, kalian tetap anak-anak bapak dan mama. Dari situ saya belajar untuk memaafkan orangtua, pasangan juga orang-orang sekitar kita. Bapak dan mama tentu sering dikecewakan oleh kami, anak-anaknya. Namun mereka selalu berusaha untuk menerima keputusan anak-anak, dan kembali, memaafkan kami. Seorang teman saya, pernah memiliki “kepahitan” dengan ayahnya. Kami sering bercerita, dan ia pun menyampaikan bahwa ia sakit hati dengan kelakuan ayahnya. Karena selingkuh, ibunya dikecewakan, dan ia merasa  bahwa ayahnya hanya memikirkan bahwa dengan uang, maka istri dan anaknya akan bahagia. Padahal bukan itu yang ia minta. Akhirnya, setelah beberapa kali kami berdoa doa bersama, dan teman saya inipun belajar untuk mengucapkan bahwa ia memaafkan papanya, mengampuni papanya, dan mengasihi papanya, ia mulai mau membuka diri dan percakapan yang lebih terbuka dan dekat dengan ayahnya. Ia pun bilang: aku baru menyadari betapa ringannya jika kita mau memaafkan dan mengampuni, terlebih orangtua sendiri. Awalnya memang kaku, ia mengakui, bahwa ia memulai percakapan dengan ayahnya, namun ia terus berusaha. Dari sekedar sms/teks: Bapak sudah makan? atau Bapak, jangan lupa istirahat ya. Jaga kesehatan. Tahun berganti, kini hubungan mereka bahkan lebih baik dari semula. Mulai dari sebuah niat dan keinginan untuk melepaskan maaf, hubungan keluarga bisa diselamatkan.

Mungkin banyak yang menganggap tulisan ini menggurui, atau sok pinter. Tapi saya hanya ingin berbagi, bahwa setiap hari, perlu kita melepaskan maaf, pengampunan untuk pasangan kita, anak-anak kita, keluarga, bahkan mungkin tetangga juga rekan sekerja. Dan apa yang kita dapatkan ketika kita bisa melepaskan maaf? We will get freedom. Kebebasan dari rasa kecewa, rasa sedih, marah dan takut. Karena kita sudah duluan berdamai dengan diri kita, masa lalu juga orang-orang sekitar kita.

Berdamai dengan Diri Sendiri

Photo source: Pexels

Leave a Reply

%d bloggers like this: