Hati Yang Gembira adalah Obat

Perdana. Menulis di 2019. Yep, telat banget ya. Karena kesibukan pekerjaan sehingga belum sempat meluangkan waktu untuk berbagi cerita.

2019, I might say not an easy start. Setelah lebih dari 10 tahun, masuk kerja di jam 8. Sekarang harus lebih siang, menjadi 8.30 dan pulang 5.30. Buat ibu bekerja dengan rute Cibubur-Thamrin, beda waktu 30 menit merupakan hal yang penting. Karena waktu tiba di rumah bisa beda hampir 1 jam.

Yang saya rasakan: marah, kesal, campur semua jadi satu. Mau protes juga ga akan ada solusinya. I have to accept it, I have to face it. Nelongsolah. Karena berangkat pagi tetap jamnya, namun saat pulang waktunya lebih lama sampai di rumah. Semakin sedikit waktu bermain dan bercengkrama bareng anak-anak. Kalau mau dibilang saya cengeng atau suka mengeluh, well ya memang sih. Tapi saya sempat merasa nyesek sampe nangis sendiri.

Pas saya pulang, di bis, lagi hujan – Bapak telepon dari Pekanbaru. Lalu saya pun ngobrol sama Mamah. Saya memang ga pernah cerita sama Mamah kalau ada masalah di kantor atau pekerjaan atau hal yang membuat saya ga nyaman di kantor. Karena I want her to know that I am ok. I am doing fine.

Nah sore itu, setelah Mamah nanya saya lagi dimana, trus naik apa, Mamah cuma bilang gini ke saya, “Adek, harus bersyukur yaa karena Adek bisa bekerja, membantu perekonomian keluarga Adek. Tetap sukacita, kalau mungkin Adek merasa capek, atau waktunya kurang sama anak-anak, tapi harus tetap bersyukur. Karena mau seberapapun bantuan kita ke keluarga kita, itu semua berharga. Harus tetap kuat dan bersyukur.” Kira-kira itu yang Mamah sampaikan ke saya.

Ah, perasaan seorang Ibu memang tak pernah salah ya. Walau saya ga pernah cerita, saya percaya itu bukan kebetulan Mamah minta Bapak untuk menelepon saya, dan hanya bercerita atau menyampaikan pesan itu.

Setelah telepon dari Mamah, saya pun jadi lebih lega, enteng dan kaya mendapat kekuatan baru. Saya percaya Tuhan yang gerakkan hati Bapak dan Mamah untuk menghubungi saya. Dan setelah Bapak dan Mamah menutup telepon, saya hanya bisa berkata,”Terima kasih Tuhan, saya diizinkan menjalani kehidupan sekarang.” Keesokan harinya, saya pun lebih iklas dalam menjalani perubahan jam kerja tersebut. Menikmati setiap prosesnya.

Sekarang saya tahu, dari mana saya bisa mendapatkan kekuatan untuk terus bertahan, berjuang walau seberat apapun kondisi yang dihadapi. Dari Mamah. Kalau Bapak? Bapak selalu mengajarkan untuk tertawa. He is the clown of the family. Walau wajahnya “sangar” tapi Bapak hatinya baik. Terlalu baik dan perhatian. Kami sudah hafal kalau Bapak terima telepon dan salah sambung. Sama Bapak “ditanggepin” dengan nanya dan menjawab macem-macem. Dengan sabar. Sekalipun, saya ga pernah melihat Bapak marah. Karena kalau Bapak marah, biasanya akan diam. Kalau sudah diam, kami semua menjauh. Setelah diam beberapa lama, Bapak sudah biasa dan akan memberikan nasihat ke kami lewat cerita atau nasihat.

In the end, sebagai orang tua, saya belajar banyak dari mereka. Sebagai ibu bekerja, saya juga belajar banyak dari mereka. Diam sebelum marah, akan membantu meredakan amarah. Bersyukur di saat susah, membantu menguatkan hati dan bisa menjalani segala sesuatunya lebih mudah.

2019, selamat datang. Saya percaya tahun 2019 akan membawa banyak berkah, membawa banyak sukacita dan tawa. I am ready. 

Leave a Reply

%d bloggers like this: