Drama Ibu Bekerja

Suatu pagi, saya berjumpa dengan seorang rekan kantor yang baru kembali bekerja setelah ia melahirkan anak pertamanya. Waktu pun membawa saya ke 8 tahun silam saat saya mengalami hal yang sama. Tidak terasa, saya bisa tiba di saat ini. Bekerja, dengan 3 orang anak yang lucu, sehat dan menggemaskan. Dan saya tetap bertahan, bekerja di luar rumah.

Cerita di balik seorang sosok ibu bekerja tentu banyak pastinya. Bagi para ibu muda, terutama yang kembali bekerja setelah melahirkan anak, usai cuti bersalin, pasti banyak dramanya. Mulai dari drama per-asi-an, tenaga yang menjaga anak di rumah, hingga kalau harus lembur bahkan ke luar kota untuk beberapa waktu. Tapi percayalah, seiring dengan berjalannya waktu, kamu pasti bisa menjalaninya, menikmati setiap prosesnya dan niscaya kamu akan semakin kuat.

Buat sahabat-sahabat saya yang saat ini sedang hamil, menanti persalinan, dan juga ibu-ibu muda yang baru memiliki anak, menanti waktu kembali masuk bekerja, pun para ibu yang sudah kembali bekerja dengan balita menanti di rumah, saya share sedikit tips dari saya, supaya kita, para ibu bekerja, punya cerita.

You can do it! Salah satu momok terbesar yang ada di pikiran Ibu yang akan kembali bekerja setelah melahirkan adalah nanti kalau anak rewel gimana ya? Mau ga ya dia sama pengasuhnya? Kalau yang ngasuh ga sayang sama anak gimana? Masa iya anak ditinggal sama pengasuh saja, bukan keluarga? Belum lagi soal ASI dan non ASI. Melahirkan normal vs caesar. Dunia kita dipenuhi dengan orang-orang yang berkomentar menurut pikiran mereka. Tapi lupa memikirkan bahwa seorang ibu yang sedang hamil, barusan melahirkan, sedang menyusui, punya perasaan. Dan perasaan mereka itu sangat sensitif. Alih-alih berkomentar: ASInya sudah keluar? Kok ASInya sedikit? Tapi ganti dengan ucapan: lekas pulih ya, semoga ibu dan bayi selalu sehat. Atau: tetap relax, bahagia dan sukacita ya. Karena hati yang gembira adalah obat. Mudah kan? Jadi, wahai ibu hamil, ibu menyusui, percaya bahwa KAMU BISA!

Setiap permasalahan, pasti ada jalan keluarnya. Semakin bertambah usia, bertambah permasalahan yang dihadapi, saya semakin belajar untuk mengurangi perkataan yang menghakimi orang lain (judging). Ketika anak pertama lahir, suami dan saya sama-sama kurang pengalaman dalam menjaga anak. Saya yang berkantor di Thamrin, dan rumah di Cibubur, jarak tempuh yang panjang sempat membuat saya gamang. Duh, pengen banget RESIGN! Begitu pemikiran saya saat itu. Merasa bahwa mengajukan pengunduran diri adalah solusi paling tepat. Namun ketika dilihat lagi, karena suami dan saya masih berbagi beban untuk cicilan rumah dan kebutuhan lainnya, akhirnya saya pun “legowo” bahwa saat itu saya harus kuat dan menikmati setiap perjalanannya. Bersyukur karena Tuhan selalu kirimkan orang yang tepat untuk membantu kami dalam menjaga anak-anak. Prinsip saya (belajar dari mama saya): kalau Tuhan berikan kita anugerah dengan anak dan juga pekerjaan, Tuhan pasti akan memampukan kita untuk menjalani setiap perjalanan hidup kita. Beban yang kita miliki, tidak pernah melebihi kekuatan kita. Tanpa terasa, anak pertama yang dulu menjadi sumber kegalauan saya untuk resign, sekarang sudah berusia 8 tahun. And i survived!

1 in a Million. You are not alone. Jangan sambil nyanyi ya. Tapi percaya ga, bahwa permasalahan ataupun kegamangan yang kita hadapi sebagai Ibu muda, itu dialami juga oleh Ibu kita, atasan kita, ataupun mungkin sahabat kita. Ya, kita harusnya bersyukur mengalami banyak permasalahan domestik, mulai dari pengasuh, pekerjaan rumah tangga, urusan keuangan suami istri, hingga permasalahan di pekerjaan di tempat kerja. Coba dihitung saja berapa Ibu bekerja yang ada di sekitar anda. Mereka bisa, jadi kita juga. Sering-sering bergaul dengan para ibu yang jauh lebih senior, dan tanya tips dari mereka supaya bisa menjalani waktu sebagai ibu dan juga pekerja kantoran yang handal.

Cari pergaulan yang positif. Bangun pertemanan dengan lingkungan yang positif, yang saling memberikan dukungan dan support. Beberapa waktu lalu, saya mendengar cerita dari seorang teman yang di awal pernikahannya, mereka ambruk secara ekonomi. Dan dari situ, saya pun belajar bahwa semua kisah dan permasalahan,  jika dihadapi dengan hati yang penuh sukacita, penuh pengharapan dan tetap sepakat dengan pasangan, akan terselesaikan dengan kebaikan dari Tuhan. Percaya atau tidak, semua permasalahan akan terselesaikan, dan tanpa disadari, kita bisa melewatinya dan bertahan.

Sebagai ibu bekerja, banyak sekali manfaat yang saya dapatkan:

  1. Pertemanan sehat. Bersyukur saya mendapatkan kesempatan bekerja di luar rumah. Teman saya jadi BANYAK banget. Mulai dari relasi yang diawali dengan profesionalisme, saya pun berkenalan dengan banyak rekan senior dan junior dengan beragam latar belakang pekerjaan, pendidikan, budaya dan sosial. Yang saya dapatkan adalah belajar menjalin relasi sebagai teman ternyata jauh lebih lekang daripada hanya membatasi untuk bahasan soal pekerjaan. Naluri pertemanan dengan lintas perusahaan terbangun.
  2. Pengalaman. Pengalaman selalu dibilang sebagai guru yang paling berharga. Wahai para lulusan S1, S2 dan S3, perjalanan anda sesungguhnya dimulai ketika anda mulai bekerja, berwirausaha atau apapun itu namanya. Karena ilmu yang didapatkan di sekolah atau universitas tidak berharga jika kita tidak mampu menerapkan, menggunakan dan membagikannya di dunia kerja.
  3. Me Time. Yes, me time saya banyak banget karena di kantor saya bisa menjadi seorang individu, tanpa harus ada bocah yang lelarian di sekitar saya. Saya salut kepada para ibu yang bisa bekerja di rumah secara profesional sekaligus menjaga dan membesarkan anak-anaknya. Saya belum sampai di situ ilmunya. Saya juga berkesempatan untuk mengatur janji bertemu dengan rekan-rekan yang sudah lama tidak bertemu dan membuat pertemuan sepanjang rehat makan siang.
  4. Mental baja. Di kantor, kalau belum ketemu dengan office drama, pasti ga seru ya. Jadi sering sekali saya bertemu permasalahan di kantor yang mungkin sepele tapi menjadi besar karena drama dan bumbu yang ada di sekitarnya. Lalu apa yang saya peroleh dan pelajari? Berpikir bijak, dan jika kita menjadi “korban” dalam drama tersebut, kita akan memiliki mental yang semakin kuat.

Yang mau saya sampaikan adalah:
Seorang ibu, terlepas ia bekerja di rumah ataupun di luar rumah, itu adalah pilihan dan keputusan masing-masing rumah tangga. Ibu bekerja jauh lebih berat tuntutannya ketika ia tetap harus bekerja saat anak sakit. Atau tetap memompa asi ketika ada jadwal meeting atau keluar kota.

Drama Ibu Bekerja

Jadi wahai para ibu muda yang bekerja, percayalah semua permasalahanmu itu ada masa kadaluarsa. Tugasmu sekarang adalah menjalaninya dengan iklas, sabar, senyum dan penuh sukacita. Karena kamu punya banyak teman ibu muda yang mengalami permasalahan serupa. Jangan membandingkan apa yang kamu jalani dengan yang orang lain jalani. Jalan hidup tiap orang itu berbeda. Tuhan punya tujuan dengan setiap apa yang kamu miliki dan hadapi.

It’s not about the quantity of time you have with  your children, but it’s all about quality. Love  you, moms!

Gambar diambil disini.

4 Comments

  1. Seorang Mahmud yang juga masih belajar

    March 25, 2019 at 9:09 am

    ..and please stop comparing our life with others. It is true that “Everyone has their own struggle”. Yes, everyone is struggling & perhaps they’re better at hiding it behind their Instagram posts. Just (trying to) be grateful, buibu!

    1. ariwita

      March 25, 2019 at 9:39 am

      Selebgram banget ya buuuu pita wkwkw thanks for comment ya mak!

  2. Retno

    March 26, 2019 at 10:58 pm

    Tulisan yg cakeeeppp.
    Bagi yg tidak bekerja kantoran, menjadi ibu pekerjaannya tetep segudang dan ga habis2,
    Jadi…. banggalah mrnjadi ibu, dengan ibu, generasi menjadi hebat

    1. ariwita

      April 2, 2019 at 1:58 am

      Thanks ibuuuuu…..

Leave a Reply

%d bloggers like this: