Mengajarkan Anak untuk Berbagi

Salah satu hal yang agak sulit diajarkan ke anak, menurut saya sebagai mamak yang belum berpengalaman adalah mengajarkan mereka untuk berbagi. Baik berbagi dengan temannya, atau juga ke saudaranya. Terutama berbagi mainan.

Prinsip keadilan untuk semua tentu hanya masih ada di benak orang dewasa. Namun beberapa waktu kemarin saya cukup kaget dengan anak saya nomor 2. Jadi ia baru berulangtahun yang ke-5. Seperti biasa, kami tidak memberikan hadiah yang mahal, tapi membelikan mainan yang ia sukai.

Mungkin bagi orangtua lain sikap kami kurang bijak, namun ketika salah satu anak berulangtahun, kami membiasakan untuk memberikan hadiah juga ke kakak/adiknya yang tidak berulangtahun. Jadi ketika kami mampir ke toko mainan di dekat rumah untuk mencari hadiah untuk yang ultah, dia tidak menemukan yang ia inginkan. Akhirnya kami pun membelikan mainan untuk si bungsu terlebih dulu.

Pencarian hadiah kami lakukan kembali. Di sebuah toko, akhirnya Damar menemukan mainan yang ia suka. Tomica, Chevrolet Camaro warna kuning. Sesuai favoritnya, Bumblebee yang menjadi robot dari sebuah mobil Chevrolet Camaro. Ya, dia memang sedetail itu. Dan dia pun mendapatkan 2 mainan mobil-mobilan yang ia sukai. Bre kami belikan 1 dan Tiara kami belikan 1 lagi.

Jadi anak pertama mendapatkan 1 mainan, yang ultah mendapatkan 2 dan si bungsu pun mendapatkan 2. Si sulung sebenarnya tidak masalah dibelikan 1 mainan, karena dia sudah mengerti bahwa dia tidak berulangtahun. Lucunya, ketika kami akan beristirahat di malam hari, kami bersama-sama masuk kamar. Si nomor 2 pun bilang begini: “Papa, besok papa belikan mainan 1 lagi ya untuk Mas. Karena Mas baru punya 1 mobilan baru, jadi supaya adil, Mas dibelikan 1 lagi, sama kaya adek dan aku. Punya 2.”

Suami dan saya pun berpandangan. Takjub, karena ia sudah memiliki konsep pemikiran demikian. Yang kami rasakan? Bersyukur. Bahagia. Kagum.

Ternyata kalau dilihat ke belakang, saya pun menyimpulkan, beberapa hal sederhana yang kami lakukan untuk mengajarkan anak berbagi:

Jangan memaksa mereka untuk berbagi mainan milik mereka. Prinsip kami, hormati mainan milik anak. Kecenderungan anak yang lebih kecil tentu lebih egois dan posesif terhadap barang milik mereka. Ketika anak yang lebih besar ingin meminjam, biasanya kami akan melihat, apakah mainan tersebut milik bersama, atau memang dibelikan khusus untuk mereka pribadi/masing-masing. Jika mainan tersebut milik  bersama,  kami akan mengajak mereka diskusi dan mau gantian dengan kakak/adiknya. Jika memang mainan tersebut milik anak A, maka kami akan meminta anak B yang mau meminjam mainan A untuk bersabar sampai B memberikan mainannya. Kalau berantem? Biasanya nanti akan baikan dengan sendirinya.

Dekati dan ajak bicara. Jika mereka tidak mau memberikan mainan atau berbagi makanan dengan saudaranya, biasanya kami dekati dan ajak bicara baik-baik. Biasanya salah satu dari kami akan tergerak untuk berbicara dengan anak tertentu. Kami memang mengajarkan yang lebih tua usianya untuk lebih mengalah ke yang lebih kecil. Namun lihat kondisi juga, jangan sampai anak yang lebih tua merasa harus selalu mengalah. Dengan keadaan tersebut, akhirnya nanti dengan sendirinya terkadang yang paling tua akan membantu mencarikan solusinya.

Mainkan bergantian. Kendala yang sering muncul adalah ketika mainan hanya ada 2 (misalnya bola), sementara anaknya 3. Si paling kecil suka tidak mau ngalah, si nomor 2 maunya main sama yang nomor 1, sedangkan yang nomor 1 kadang maunya istirahat. Akhirnya kami ajak bicara sama-sama dan tanyakan keinginan mereka masing-masing. Belajar untuk mencari solusi bersama. Apakah metode ini selalu berhasil? Ya tentu tidak ya. Tapi paling tidak prosentase keberhasilan masih lumayan. Daripada lumanyun.

Tidak Perlu Mahal, Ajak Mereka Beraktifitas Bersama. Ketika kami panen rambutan, anak-anak kami minta bergantian untuk mengambil ember untuk mencuci, mencarikan kantong plastik, juga mengirimkan hasil panen ke tetangga. Kami juga sempat mengajak mereka berpartisipasi untuk membuat pohon natal bekas bersama. Tujuannya apa? Agar mereka juga bisa paham konsep kerjasama, bekerja dalam tim. Dan tidak melulu minta belikan mainan, tapi mainkan yang ada.

Sortir dan berbagi. Secara berkala, kami juga menyortir mainan, baju, buku mereka yang sudah tidak terpakai atau yang mereka sudah bosan mainkan, dengan syarat mainan/buku/baju masih dalam kondisi bagus. Kami kumpulkan dan biasanya kami berikan ke teteh yang membantu kami mengasuh anak-anak untuk dia bagikan ke tetangga di dekan rumah kontrakannya. Sehingga mereka pun tahu bahwa mereka bersyukur punya mainan, walau tidak mewah tapi ada.

Jadi, sebisa mungkin, perbanyak kesempatan anak untuk berbagi. Apapun itu. Bisa dimulai berbagi dengan orangtuanya, pengasuhnya, kakak/adiknya, hingga temannya. Ketika mereka bertengkar, rebutan ataupun kesal karena tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, atau tidak dikasih pinjam oleh yang lain, biarkan mereka merasakannya. Sehingga ketika mereka melakukan hal yang serupa, mereka mengetahui bagaimana rasanya tidak diberikan pinjaman mainan. Hal yang sederhana kalau dibiasakan dari kecil, mudah-mudahan menjadikan mereka pribadi yang mau berbagi, murah hati dan iklas melepaskan apa yang menjadi milik mereka (bukan berarti tidak memiliki keinginan ya). Karena apapun milik kita di dunia, semuanya adalah berkat dari Tuhan, bukan karena kehebatan atau kekayaan kita. Sehingga mereka pun mengerti ketika mereka harus memberikan barang/hadiah terbaik ke orang lain, itu jauh lebih berharga daripada mereka harus menyimpan untuk kepentingan mereka sendiri.

So parents, gimana ceritamu tentang mengajarkan anak untuk berbagi? Boleh dong share di komentar postingan ini! 🙂

Leave a Reply

%d bloggers like this: