Mati Listrik

Bersyukurlah kita yang tinggal di area dimana listrik merupakan hal yang bisa dinikmati sehari-hari. Namun, ketika kita, para orangtua yang sudah menganggap listrik adalah hal yang biasa, bagaimana menyikapi ketika adanya pemadaman listrik di rumah, tempat tinggal kita?

Saat saya masih bersekolah di Pekanbaru, Riau, daerah tersebut masih rutin menggalami pemadaman listrik secara bergilir. Dan itu sebenarnya merupakan hal yang biasa. Lumrah, terlebih ketika masih terbiasa tidur tanpa AC, cukup dengan kipas angin. Di Indonesia, masih banyak daerah yang belum terjamah oleh aliran listrik. Ketika lampu dan listrik masih merupakan kemewahan.

Kini, tinggal di perkotaan, lampu, akses televisi yang mudah ditonton, akses internet yang tersedia di rumah, hal yang dulu dianggap mewah, kini hampir setiap rumah memilikinya. Hingga saat listrik tiba-tiba mengalami putus aliran dari PLN, tanpa peringatan, dengan mudah setiap warga rumah menghujat PLN, protes dan mengeluh.

Sebagai seorang ibu, saya tergelitik. Sebegitu tergantungkah kita dengan listrik? Ya memang, pasti. Hanya jangan lupa. Ketika listrik ada, harus digunakan secara bijak. Dan ketika listrik tidak ada (atau ada pemadaman), tentu harus bersikap biasa. Nah saya ingin berbagi sedikit tips buat para ibu, untuk membiasakan agar anak-anak tetap bisa beraktifitas seru di saat adanya pemadaman listrik.

  1. Ajak mereka untuk tetap bersyukur. Kalau siang, biasanya tidak masalah karena tetap ada pencahayaan alami. Tapi kalau malam, tentu harus membiasakan dengan menggunakan alat bantu pencahayaan tambahan. Saya selalu mengajak anak-anak untuk tetap senang dan tidak takut saat listrik padam. Saya ingatkan mereka untuk tetap bersyukur kalau kita mengalami mati listrik sekali-sekali, karena di beberapa daerah lainnya, banyak yang tidak punya listrik di kala malam sehingga untuk belajar kadang harus menggunakan lampu tambahan dengan minyak tanah atau yang lainnya.
  2. Pernah main bayang-bayangan kan? Biasanya kesempatan lampu mati, dengan adanya pencahayaan tambahan dari senter, kami bermain bayang-bayangan. Bisa berupa cerita, atau sekedar mengikuti bayangan yang ada di tembok.
  3. Di siang hari, biasakan untuk tidak menggunakan AC di rumah, misalnya ketika anak-anak tidur siang walaupun cuaca panas, kami tetap mengandalkan angin (AC alami) untuk bisa memberikan kesegaran di dalam rumah. Beruntung memang tinggal di daerah pinggiran yang masih asri dan banyak pepohonan.
  4. Kadang saya juga memperlihatkan foto daerah-daerah yang belum bisa mendapatkan akses listrik yang mudah seperti yang tinggal di perkotaan.

Beberapa hal sederhana yang dapat menumbuhkan empati, bersyukur untuk hal yang sederhana. Membuat anak bahagia tidak harus selalu dengan mainan yang mahal. Tapi dari hal yang biasa, dapat juga dijadikan sebuah alasan untuk tetap bahagia. Memang perlu proses. Tidak ada yang instan. Anak saya yang pertama, kini usia 9 tahun (hampir 10 tahun), saya tantang untuk menghargai hal-hal yang mungkin dianggap remeh. Saya tekankan misalnya, untuk pensil dan alat tulis yang dia miliki, agar dia jaga. Kalau hilang atau tertinggal di sekolah, saya minta agar dia mencarinya hingga ketemu. Kenapa? Dengan menghargai  hal kecil seperti itu, dia akan belajar untuk tanggung jawab untuk hal yang kecil. Sehingga saat dia diberikan tanggung jawab yang lebih besar, dia akan mengerti untuk menjaga dan merawatnya.

Nah mommies, ada cerita seru apa saat mati listrik lalu? Share dong!

 

Ilustrasi gambar dari sini. 

Leave a Reply

%d bloggers like this: